Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

MTA : Cinta dan Benci karena Allah

| April 18, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-15T02:22:39Z


Alamanahjurnalis.com - Dalam kehidupan dunia, persahabatan sering menjadi bagian penting dalam perjalanan manusia. Namun, Islam memberikan panduan bahwa tidak semua hubungan pertemanan akan membawa kebaikan di akhirat.

Allah SWT berfirman dalam Surat Az-Zukhruf:
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa. Wahai hamba-hamba-Ku, tidak ada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasangan-pasanganmu bergembira.”

Ayat ini menegaskan bahwa hubungan yang dibangun bukan atas dasar keimanan dan ketakwaan berpotensi berubah menjadi permusuhan di hari kiamat. Sebaliknya, persahabatan yang dilandasi iman akan menjadi penyelamat.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Allah berfirman pada hari kiamat: ‘Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi mereka di bawah naungan-Ku, di mana tidak ada naungan selain naungan-Ku.’” (HR. Thabrani)

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga menyampaikan bahwa:
“Amal yang paling utama adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.”

Pesan ini menunjukkan bahwa seorang mukmin hendaknya menjalin hubungan atas dasar keimanan. Cinta yang lahir karena Allah akan membawa kepada kebaikan, sedangkan kebencian pun harus didasarkan pada penolakan terhadap kemaksiatan, bukan karena hawa nafsu.

Dalam kehidupan sehari-hari, cinta karena Allah tercermin melalui kedekatan, kepedulian, serta saling mengunjungi dan menasihati dalam kebaikan. Sementara itu, sikap tidak suka terhadap perbuatan maksiat dapat diwujudkan dengan menjaga jarak atau menegur dengan cara yang bijak.

Namun demikian, Islam juga mengajarkan keseimbangan. Terhadap kesalahan yang dilakukan tanpa kesengajaan, dianjurkan untuk memaafkan dan menutupinya. Bahkan, memaafkan orang yang telah berbuat zalim merupakan akhlak mulia para shiddiqin.

Nilai ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Majalis Rumi, bahwa keluhuran akhlak tercermin dari kemampuan seseorang menahan amarah dan memberi maaf.

Dengan demikian, persahabatan sejati dalam Islam bukan sekadar kedekatan emosional, tetapi ikatan yang berlandaskan iman, saling menguatkan dalam kebaikan, serta menjaga diri dari hal-hal yang dimurkai Allah SWT.

Editor: Ninik QA
×
Berita Terbaru Update