Alamanahjurnalis.com - Dijelaskan dalam QS Al-Mujadilah: 11 bahwa “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan”. Penggunaan secara simultan antara rasio, rasa, iman atau integrasi antara pikir, zikir, dan iman akan lebih terpadu dan konsisten.
Surat Al Baqarah ayat 29 menunjukkan bagaimana Allah SWT menciptakan makhluk Makrokosmos, yaitu langit dan bumi.
Penegasan akan siapa pencipta alam semesta ini akan menggetarkan hati dan fikiran orang-orang yang logika imaniyahnya aktif.
Allah tegaskan dalam al-Quran,
مَا أَشْهَدْتُهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلا خَلْقَ أَنْفُسِهِمْ
Aku tidak menghadirkan mereka untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri (QS. al-Kahfi: 51)
Di surat Fushilat ayat 9 hingga 12, Allah menyebutkan bahwa Dia menciptakan bumi terlebih dahulu sebelum langit. Sehingga, secara Ibtida al-Khalqi, bumi lebih awal dibandingkan langit. Namun penyempurnaan bumi (Taswiyah al-Khlqi), baru dilakukan setelah Allah menciptakan langit (konsultasisyariah.com)
Teori Ledakan Besar (Big Bang) mengungkapkan bahwa alam semesta termasuk bumi dan isinya itu terbentuk dari sebuah ledakan besar. Teori ini menyatakan adanya “awal atau permulaan” pada alam semesta yang disebabkan oleh Big Bang. Kalau alam semesta itu memiliki permulaan, maka tentu saja ada yang menciptakannya yakni Tuhan, Sang Pencipta semesta alam.
Sains modern menyatakan, jika dibandingkan dengan umur bumi yang diperkirakan mencapai 4,5 miliar tahun, alam semesta jauh lebih tua dan diperkirakan mencapai usia 15 miliar tahun (ummetro.ac.id).
Teori Big Bang adalah teori penciptaan alam semesta yang paling terkenal dan masuk akal. Di temukan oleh Edwin Hubble pada tahun 1929, teori ini mengatakan bahwa alam semsta ini berasal dari kondisi yang super padat dan sangat panas, yang kemudian meledak dan mengembang menjadi banyak material yang tersebar di penjuru alam semesta.
Mari kita tengok sejenak Al Quran surat Hud ayat 7 yang berbunyi : “Dan Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari (masa)”.
Makna enam hari di sini berarti enam masa penciptaan alam semesta, yang hal ini disebutkan oleh Allah dalam Al Qur'an pada surat An Nazi’at ayat 27-33 :
27. Apakah kamu lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membinanya
28. Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya
29. Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang
30. Dan bumi sesudah itu dihamparkanya
31. Ia memancarkanya dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuhan-tumbuhannya
32. Dan gunung-gunung dipancangkannya dengan teguh
33. (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu”.
(p3k.uma.ac.id)
Masa I (ayat 27): penciptaan langit pertama kali
Pada Masa I, alam semesta pertama kali terbentuk dari ledakan besar yang disebut ”big bang”, kira-kira 13.7 milyar tahun lalu. Bukti dari teori ini ialah gelombang mikrokosmik di angkasa dan juga dari meteorit.
Masa II (ayat 28): pengembangan dan penyempurnaan
Dalam ayat 28 di atas terdapat kata ”meninggikan bangunan” dan ”menyempurnakan”. Kata ”meninggikan bangunan” dianalogikan dengan alam semesta yang mengembang, sehingga galaksi-galaksi saling menjauh dan langit terlihat makin tinggi. Ibaratnya sebuah roti kismis yang semakin mengembang, di mana kismis tersebut dianggap sebagai galaksi. Jika roti tersebut mengembang maka kismis tersebut pun akan semakin menjauhi model roti kismis untuk menggambarkan mengembangnya alam semesta.
Sedangkan kata ”menyempurnakan”, menunjukkan bahwa alam ini tidak serta merta terbentuk, melainkan dalam proses yang terus berlangsung. Misalnya kelahiran dan kematian bintang yang terus terjadi. Alam semesta ini dapat terus mengembang, atau kemungkinan lainnya akan mengerut.
Masa III (ayat 29): pembentukan tata surya termasuk bumi reaksi nuklir yang menjadi sumber energi bintang seperti matahari.
Surat An-Nazi’ayat 29 menyebutkan bahwa Allah menjadikan malam yang gelap gulita dan siang yang terang benderang. Ayat tersebut dapat ditafsirkan sebagai penciptaan matahari sebagai sumber cahaya dan bumi yang berotasi, sehingga terjadi siang dan malam.
Masa IV (ayat 30): awal mula daratan di bumi
Penghamparan yang disebutkan dalam ayat 30, dapat diartikan sebagai pembentukan superkontinen Pangaea di permukaan bumi.
Masa V (ayat 31): pengiriman air ke bumi melalui komet ilustrasi komet yang membawa unsur hidrogen sebagai pembentuk air di bumi
Dari ayat 31 di atas, dapat diartikan bahwa di bumi belum terdapat air ketika mula-mula terbentuk. Jadi, ayat ini menunjukan evolusi bumi dari tidak ada air menjadi ada air.
Masa VI (ayat 32-33): proses geologis serta lahirnya hewan dan manusia gunung sebagai pasak bumi
Dalam ayat 32 di atas, disebutkan ”…gunung-gunung dipancangkan dengan teguh.” Artinya, gunung-gunung terbentuk setelah penciptaan daratan, pembentukan air dan munculnya tumbuhan pertama. Gunung-gunung terbentuk dari interaksi antar lempeng ketika superkontinen Pangaea mulai terpecah.
Kemudian, setelah gunung mulai terbentuk, terciptalah hewan dan akhirnya manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat 33 di atas. Jadi, usia manusia relatif masih sangat muda dalam skala waktu geologi (stainidaeladabi.ac.id)
Para astronom baru saja menemukan sebuah exoplanet yang tersusun dari lava cair, yang menunjukkan keberadaan jenis planet cair yang sama sekali baru, yang diberi nama L98-59d, mengorbit sebuah bintang merah kecil sekitar 35 tahun cahaya dari Bumi dan suhu permukaan diperkirakan mencapai 1.900°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inti planet tersebut mungkin juga berada dalam keadaan cair, sementara gravitasi dari planet-planet tetangga menciptakan pasang surut yang kuat, menyebabkan "gelombang magma" terus-menerus mengaduk permukaan.
Di samping itu, para astronom juga mengamati komet antarbintang 3I/ATLAS saat melintas di dekat Jupiter menemukan bahwa komet tersebut mungkin jauh lebih tua dari perkiraan sebelumnya, bahkan berpotensi mendahului seluruh Tata Surya. Data yang konsisten dengan skenario 3I/ATLAS berasal dari periode awal pembentukan bintang di Galaksi Bima Sakti, 10-12 miliar tahun yang lalu, dan lebih tua dari Tata Surya (yang berusia sekitar 4,6 miliar tahun). Hal ini menjadikan 3I/ATLAS sebagai "fosil" dari sistem planet kuno, yang melestarikan jejak kimiawi es dan materi mudah menguap dari awal pembentukannya. Keberadaan senyawa yang mengandung C, H, O, N, dan S di 3I/ATLAS menunjukkan bahwa lingkungan purba ini memiliki komponen yang cukup untuk memicu reaksi kimia kompleks selama tahap awal pembentukan galaksi kita (vietnam.vn). Kedua penelitian ini bisa mendukung dalil aqli penciptaan bumi dan langit.
Memahami sifat-sifat alam semesta akan sangat berguna dalam memantapkan hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara ilmu pengetahuan, teknologi dengan Islam.
(Redaksi)


