Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Muhammadiyah Punya Modal Besar untuk Perkuat Peran di Dunia Internasional

| August 31, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-30T23:36:48Z


Alamanahjurnalis.com — Internasionalisasi Muhammadiyah perlu terus diperkuat dengan membangun jejaring global, memperluas kajian tentang Muhammadiyah, serta memainkan peran dalam diplomasi Islam. Internasionalisasi tersebut dinilai penting agar pengalaman dan gagasan Muhammadiyah dapat berkontribusi lebih luas dalam percaturan dunia.


Hal itu disampaikan Ahmad Fuad Fanani dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, Jumat (28/08). Dalam paparannya, Fuad membahas empat hal utama, yaitu pentingnya patriotisme bagi Muhammadiyah, alasan internasionalisasi Muhammadiyah, langkah yang telah dan perlu dilakukan, serta berbagai tantangan yang harus dihadapi.


Pentingnya Patriotisme Bagi Muhammadiyah

Fuad menegaskan bahwa internasionalisasi Muhammadiyah tidak perlu dipertentangkan dengan kecintaan terhadap Indonesia. Menurutnya, sejarah Muhammadiyah menunjukkan bahwa para tokohnya memiliki hubungan yang kuat dengan dunia internasional, tetapi tetap memiliki komitmen terhadap tanah air.


Ia mencontohkan KH Kahar Muzakir dan KH Mas Mansur yang pernah menempuh pendidikan di luar negeri, tetapi tetap memiliki kecintaan yang tinggi terhadap Indonesia. Hal serupa terlihat dalam perjalanan KH Ahmad Dahlan yang dua kali pergi ke Makkah. Ahmad Dahlan, menurut Fuad, tidak memilih menetap di sana, melainkan membawa pengetahuan yang diperolehnya untuk diajarkan dan dikembangkan di Indonesia.


Karena itu, Fuad menilai patriotisme di kalangan Muhammadiyah memiliki akar sejarah yang kuat. Dalam perjuangan membangun Indonesia, Muhammadiyah bersama kelompok-kelompok lain mengembangkan gagasan tentang Indonesia sebagai bangsa yang utuh, bukan berdasarkan identitas kedaerahan tertentu.


“Yang diambil itu ide Indonesia, bukan ide kejawaan, bukan ke-Yogyakarta-an, bukan ke-Jawa Timur-an ataupun ke luar Jawa,” ujarnya.


Menurut Fuad, hubungan umat Islam Nusantara dengan dunia internasional juga telah berlangsung sejak berabad-abad lalu. Ia merujuk pada kajian Azyumardi Azra mengenai ulama Nusantara yang belajar ke Timur Tengah pada abad ke-16 dan ke-17 serta membentuk komunitas yang dikenal sebagai al-Bilad al-Jawi. Sejumlah sarjana lain juga telah mengkaji kontribusi ulama dan pemikir Indonesia terhadap pembentukan nasionalisme.


Dari sejarah tersebut, Fuad menyimpulkan bahwa patriotisme dan keterbukaan terhadap dunia luar bukanlah dua hal yang bertentangan. Muhammadiyah justru memiliki tradisi mengambil gagasan dari berbagai tempat, mengolahnya, lalu membumikannya dalam konteks Indonesia.


Alasan Internasionalisasi Muhammadiyah

Fuad kemudian menjelaskan alasan Muhammadiyah perlu memperkuat internasionalisasi. Salah satu landasannya terdapat dalam QS al-Hujurat ayat 13 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam berbagai bangsa dan suku agar saling mengenal atau li ta‘ārafū. Dalam konteks kekinian, prinsip tersebut dapat diwujudkan melalui diplomasi, membangun jejaring, dan menjalin hubungan dengan masyarakat di berbagai negara.


“Tujuannya itu untuk ta‘aruf. Ta‘aruf itu kalau bahasa sekarang, ya berdiplomasi, berjejaring, berhubungan dengan yang lain,” katanya.


Ia juga mengaitkan internasionalisasi dengan QS al-Jumu‘ah ayat 10 yang memuat perintah fantashirū fī al-arḍ atau menyebar di muka bumi setelah menunaikan salat. Menurut Fuad, ayat tersebut dapat menjadi inspirasi untuk membangun jejaring yang lebih luas, termasuk melalui dakwah, pendidikan, dan pengabdian di berbagai tempat.


“Tidak cukup dengan apa yang kita punyai hari ini,” tegasnya.


Fuad menilai kekuatan Muhammadiyah selama ini ditopang oleh tradisi keilmuan dan keterbukaan terhadap pertukaran gagasan. Ia menyebut setidaknya terdapat aspek ilmu pengetahuan atau epistemologi dan aspek institusi atau kelembagaan yang berperan dalam keberlanjutan Muhammadiyah.


Dalam aspek keilmuan, Muhammadiyah sejak awal tidak membatasi diri pada gagasan yang berkembang di lingkungan sendiri. KH Ahmad Dahlan, misalnya, membaca karya-karya pembaru Islam seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Rida, termasuk Tafsir al-Manar. Gagasan tersebut kemudian dipelajari, diinterpretasikan, dan diterapkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.


Tradisi pendidikan juga menjadi kekuatan penting. Fuad melihat tingkat pendidikan kader dan pimpinan Muhammadiyah yang relatif tinggi sebagai salah satu modal bagi perkembangan organisasi. Karena itu, penguatan ilmu pengetahuan dan literasi perlu terus dipertahankan dalam proses internasionalisasi Muhammadiyah.


Di tengah perubahan tatanan global, Fuad melihat kebutuhan internasionalisasi semakin besar. Dunia saat ini, menurutnya, tidak lagi berada dalam pola bipolar seperti masa persaingan Amerika Serikat dan Uni Soviet, tetapi telah bergerak menuju kondisi multipolar dengan pusat-pusat kekuatan yang semakin beragam.


Perubahan tersebut juga memengaruhi relasi antara dunia Islam dan Barat. Fuad menilai sentimen negatif terhadap Islam masih muncul dalam sebagian wacana global, terutama setelah peristiwa 11 September 2001 dan menguatnya narasi tentang war on terror. Dalam situasi tersebut, Muhammadiyah dinilai memiliki peluang untuk memperkenalkan corak Islam yang moderat dan terbuka.


Menurut Fuad, Indonesia dan Muhammadiyah memiliki sejumlah modal penting untuk memainkan peran tersebut. Indonesia memiliki jumlah penduduk Muslim yang besar, pengalaman demokrasi, sumber daya manusia dan kekuatan ekonomi, sementara Muhammadiyah memiliki modal sosial serta kelembagaan yang luas.


Ia menyebut keberadaan ratusan rumah sakit, perguruan tinggi, sekolah, pesantren, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah sebagai modal yang membedakannya dari banyak organisasi Islam transnasional lainnya.


“Jadi saya kira itu merupakan modal besar,” ujarnya.


Meski demikian, Fuad menilai internasionalisasi Muhammadiyah tidak cukup dilakukan dengan membangun institusi di luar negeri. Muhammadiyah telah memiliki sejumlah perkembangan penting, seperti Universitas Muhammadiyah Malaysia, Muhammadiyah Australian College di Melbourne, serta berbagai aktivitas Muhammadiyah di luar negeri. Ia juga menyebut langkah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang membeli sebuah gereja di Spanyol sebagai bagian dari perkembangan internasionalisasi Muhammadiyah.


Menurut Fuad, berbagai institusi tersebut merupakan hardware. Agar internasionalisasi berjalan lebih kuat, Muhammadiyah juga membutuhkan software berupa gagasan, kajian, diskusi, dan produksi pengetahuan tentang Muhammadiyah yang dapat diperbincangkan di tingkat internasional.


Fuad mendorong agar kajian tentang Muhammadiyah dilakukan secara lebih serius dan berkelanjutan. Ia menceritakan pengalamannya ketika menulis disertasi tentang Muhammadiyah di Australian National University. Awalnya, ia tidak berencana menjadikan Muhammadiyah sebagai objek penelitian. Namun, profesor pembimbingnya, Greg Fealy, justru mendorongnya karena masih terbatas kajian internasional mengenai perkembangan Muhammadiyah, terutama setelah era Reformasi.


Dalam proses penelitian tersebut, Fuad juga mendapatkan pesan dari Buya Ahmad Syafii Maarif agar menulis Muhammadiyah secara kritis dan tetap menjaga jarak sebagai seorang peneliti. Menurutnya, tradisi kajian yang kritis diperlukan agar Muhammadiyah dapat dipahami secara lebih objektif oleh masyarakat internasional.


Dalam konteks diplomasi, Fuad menyarankan Muhammadiyah menerapkan pendekatan active hedging. Pendekatan tersebut berarti Muhammadiyah perlu aktif membangun kerja sama dengan berbagai negara dan komunitas tanpa membatasi diri pada kelompok atau kekuatan tertentu.


“Active hedging itu kita harus bergerak dan mau bekerja sama dengan siapa saja,” katanya.


Aktif dalam Penyelesaian Masalah Internasional

Fuad juga melihat Muhammadiyah dapat mengambil peran sebagai jembatan antara Islam dan Barat. Kerja sama dengan pemerintah, Nahdlatul Ulama, serta organisasi lainnya dapat diarahkan untuk memperkuat dialog dan mengurangi kesalahpahaman antara masyarakat Muslim dan masyarakat Barat.


Menurutnya, pengalaman Muhammadiyah di sejumlah negara menunjukkan adanya modal sosial yang kuat. Muhammadiyah dinilai memiliki citra sebagai organisasi yang relatif terbuka dan ramah sehingga lebih mudah diterima dalam lingkungan masyarakat internasional.


“Ini kan modal diplomasi yang lebih besar,” ujarnya.


Selain menjadi jembatan antara Islam dan Barat, Fuad mendorong Muhammadiyah untuk membuka diri terhadap imam dan tokoh Muslim dari berbagai negara. Menurutnya, keterbukaan tersebut dapat menjadi bagian dari diplomasi Islam yang moderat sekaligus mencegah terbentuknya komunitas Muslim yang terisolasi berdasarkan asal negara atau mazhab tertentu.


Ia juga mengusulkan agar Muhammadiyah mulai memikirkan peran yang lebih besar sebagai mediator dalam konflik di Timur Tengah. Menurut Fuad, kemampuan menjadi mediator tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan negara, tetapi juga dapat dibangun melalui hubungan antarmasyarakat atau people-to-people relations.


“Jadi soal mediasi ini sebetulnya bisa kita lakukan dan kita bisa konkretkan,” katanya.


Fuad menilai Muhammadiyah telah memiliki infrastruktur yang memungkinkan peran tersebut dikembangkan. Keberadaan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM), sekolah, universitas, serta berbagai amal usaha di sejumlah tempat dapat menjadi basis untuk membangun jejaring dan diplomasi masyarakat.


Namun, seluruh kekuatan kelembagaan itu perlu disertai dengan produksi gagasan. Kajian, penelitian, dan perbincangan mengenai Muhammadiyah perlu diperluas agar masyarakat internasional mengenal Muhammadiyah melalui pemikiran dan kontribusinya, bukan semata melalui nama atau tokoh tertentu.


Menurut Fuad, internasionalisasi Muhammadiyah pada akhirnya perlu diarahkan pada upaya memperkenalkan gagasan, pengalaman, dan kontribusi Muhammadiyah kepada dunia. Dengan modal keilmuan, kelembagaan, sumber daya manusia, dan jejaring yang telah dimiliki, Muhammadiyah dinilai memiliki peluang untuk memperkuat perannya dalam diplomasi Islam dan percaturan global.


Sumber: Muhammadiyah.or.id

×
Berita Terbaru Update