Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Meneladani Rasulullah Saw Dimulai dari Iman, Orientasi Akhirat, dan Zikir

| September 12, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-11T20:45:16Z


Alamanahjurnalis.com - Menjadikan Rasulullah Saw sebagai teladan merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, kemampuan meneladani Rasulullah Saw perlu ditopang karakter tertentu dalam diri seorang Muslim, terutama iman kepada Allah, orientasi kepada kehidupan akhirat, dan kebiasaan mengingat Allah.


Hal tersebut disampaikan Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Saiful Bahri dalam Mimbar Jumat TVMu pada Jumat (04/09). Ia menjelaskan bahwa Allah Swt mengutus Rasulullah Saw sebagai manusia terbaik sekaligus teladan bagi umat manusia. Keteladanan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan personal maupun kehidupan bersama.


Menurut Saiful, Al-Qur’an memberikan kriteria mengenai orang-orang yang mampu menjadikan Rasulullah Saw sebagai uswatun hasanah. Setidaknya terdapat tiga karakter yang perlu dimiliki.


Pertama, orang yang beriman kepada Allah dan mengharapkan rida serta rahmat-Nya. Kedua, orang yang beriman kepada hari kebangkitan atau hari kiamat. Ketiga, orang yang banyak mengingat, berzikir, dan mengagungkan Allah Swt. Ketiga hal tersebut menjadi pilar yang memungkinkan seseorang semakin dekat dengan Rasulullah Saw dan mampu meneladaninya.


“Mencontoh Rasulullah dalam dimensi apapun secara personal maupun secara komunal bukan sesuatu yang mustahil,” kata Saiful.


Membangkitkan Potensi Kebaikan

Saiful kemudian mengaitkan keteladanan Rasulullah Saw dengan misi perubahan yang dibawa Nabi. Ia merujuk Surah al-Jumu‘ah ayat 2 yang menjelaskan pengutusan Rasul di tengah masyarakat yang saat itu memiliki tingkat literasi yang rendah.


Menurutnya, Rasulullah Saw hadir dari tengah masyarakat tersebut dan membawa misi membangkitkan potensi kebaikan yang telah ada dalam diri mereka. Potensi itu sebelumnya tertutup oleh budaya dan tradisi jahiliah.


Langkah awal yang dilakukan Rasulullah Saw ialah membacakan ayat-ayat Allah, mengenalkan manusia kepada Allah, sekaligus memperkuat spiritualitas. Proses tersebut dilanjutkan dengan pengajaran Al-Qur’an dan hikmah serta bimbingan Rasulullah Saw.


Saiful mencontohkan sejarah Universitas Al-Qarawiyyin dan Universitas Al-Azhar yang menurutnya sama-sama berangkat dari masjid. Hal tersebut menunjukkan pentingnya spiritualitas sebagai titik tolak dalam membangun nilai-nilai pendidikan di tengah masyarakat.


Ia menekankan bahwa manusia dengan kondisi awal yang penuh keterbatasan tetap memiliki potensi untuk berkembang. Rasulullah Saw, katanya, tidak menolak sumber daya insani dengan latar belakang seburuk apa pun. Siapa pun yang datang kepada beliau dengan beriman kepada Allah dan bersaksi bahwa beliau adalah Rasul-Nya dapat dibangkitkan potensi positifnya.


Fikih Perubahan Sosial

Dari proses tersebut, Saiful mengajak umat memahami pentingnya perubahan sosial yang dirancang secara sadar. Ia menyebut konsep fiqh al-taghyir atau fikih perubahan yang dalam perkembangan pemikiran kontemporer disebut al-fiqh al-insya’i, yakni fikih rekayasa perubahan sosial.


“Perubahan sosial itu harus direkayasa. Karena bila tidak direkayasa maka kitalah yang akan terekayasa,” ujarnya.


Ia menjelaskan bahwa ketika kemungkaran dibiarkan merajalela, sesuatu yang salah dapat berubah menjadi hal yang dianggap biasa. Sebaliknya, perubahan sosial yang dirancang untuk membangkitkan potensi positif dapat mengubah kondisi masyarakat.


Saiful mengambil contoh perubahan yang terjadi di Madinah. Menurutnya, masyarakat yang sebelumnya menghadapi berbagai persoalan sosial dan ekonomi kemudian berkembang menjadi pusat peradaban setelah Rasulullah Saw membangun potensi positif masyarakatnya.


Keteladanan Rasulullah Saw, lanjutnya, dimulai dari literasi terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian mentransformasikannya menjadi nilai yang dipraktikkan dalam kehidupan.


Iman kepada Akhirat Membentuk Visi

Karakter kedua yang memungkinkan seseorang meneladani Rasulullah Saw ialah iman kepada hari akhir. Saiful menjelaskan bahwa keyakinan terhadap hari kebangkitan membentuk orientasi kehidupan yang lebih panjang.


“Seseorang yang hanya berpikir hidup di jangka pendek hari ini saja adalah orang-orang yang tidak memiliki visi masa depan,” tuturnya.


Menurut Saiful, kehidupan manusia berlangsung melalui berbagai fase, mulai dari alam arwah, rahim, kehidupan dunia, alam barzakh, hingga kehidupan akhirat. Pada fase terakhir tersebut manusia akan berada dalam kehidupan yang kekal.


Keyakinan terhadap hari akhir, menurutnya, seharusnya berpengaruh terhadap perilaku seseorang di dunia. Orang yang benar-benar memiliki kesadaran tentang pertanggungjawaban di akhirat akan menjaga dirinya dari dusta, pengkhianatan, dan pelanggaran terhadap syariat Allah.


Ia kemudian mengisahkan Muhammad Al-Fatih yang disebut mengenakan kain kafan pada mahkotanya sebagai pengingat terhadap kematian dan pertanggungjawaban kepemimpinan. Kisah tersebut digunakan Saiful untuk menggambarkan pentingnya visi masa depan dalam menjalankan amanah.


Zikir sebagai Penguat Keteladanan

Karakter ketiga ialah memperbanyak zikir kepada Allah. Saiful menjelaskan bahwa perintah untuk banyak mengingat Allah menunjukkan pentingnya menjaga kedekatan spiritual secara terus-menerus.


Ia mengkritik kebiasaan manusia yang mendekat kepada Allah ketika sedang membutuhkan sesuatu, lalu menjauh ketika merasa tidak membutuhkan-Nya. Menurutnya, pola tersebut perlu diubah dengan membangun hubungan yang konsisten dengan Allah melalui zikir dan ibadah.


“Dalam semua keadaan kita berdiri, duduk, berbaring, kita dianjurkan untuk mengingat Allah supaya apa? Supaya kita bisa meneladani Rasulullah sallallahu alaihi wasallam,” ujarnya.


Zikir, lanjutnya, menjadi sarana untuk menjaga nilai-nilai kebaikan agar hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, keteladanan kepada Rasulullah Saw dapat diwujudkan melalui transformasi nilai yang dibawa beliau ke dalam perilaku nyata.


Sumber: Muhammadiyah.or.id

×
Berita Terbaru Update