Alamanahjurnalis.com – Zuhud bukan kesederhanaan hidup yang cenderung ke arah nestapa. Tapi zuhud adalah kesederhanaan di posisi yang proporsional– di posisi tengahan, tidak berlebihan namun juga tidak berkekurangan.
Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, zuhud itu bukan serba atau terlalu kekurangan sebagaimana yang banyak dipahami oleh masyarakat umum di Indonesia, atau bahkan dunia Islam.
Haedar juga tidak bersepakat, ketika sikap zuhud yang serba kekurangan itu kemudian diglorifikasi seakan-akan menjadi puncak dari kebaikan akhlak, sehingga orang yang baik itu adalah mereka yang hidupnya serba nestapa.
Laku zuhud yang demikian itu, sambungnya, menjadikan nyaris semua yang saat ini menjadi Ketua PP Muhammadiyah tidak berkeinginan atau enggan untuk menjabat seperti amanah yang saat ini mereka emban.
Fakta itu diungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Senin (31/8) dalam Launching Buku “Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran” 70 Tahun Prof. Syamsul Anwar.
“Sebenarnya semua kita ini tidak ingin, tetapi amanah baik itu jika ditunaikan oleh orang baik, dan lebih baik itu kan jadi amal jariyah yang utama,” ungkap Haedar.
Di waktu yang sama, kezuhudan juga harus dinamis jangan sampai jatuh pada fatalisme yakni sebuah paham bahwa dunia telah ditentukan sebelumnya oleh takdir atau nasib, dan manusia tidak memiliki kendali atau kemampuan untuk mengubahnya.
“Sebagaimana tokoh-tokoh Muhammadiyah, terlebih dalam aspek keilmuan. Tetapi dinamis, bahkan progresif itu tetap dalam Muhammadiyah itu selalu ada bingkainya,” tuturnya.
Bingkai yang dimaksud oleh Haedar Nashir adalah Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijtihad. Sebab ilmu manusia itu terbatas, jangan sampai manusia merasa lebih besar dan melampaui Al Qur’an dan Sunnah Nabi, serta merasa paling besar.
Sumber: Muhammadiyah or id


