Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Etika Pembangunan Kehidupan antar Umat Beragama

| May 15, 2024 WIB | 0 Views Last Updated 2024-05-15T06:27:57Z


Alamanahjurnalis.com -  Kediri - Kerukunan hidup beragama merupakan suatu komunikasi yang harmonis dalam dinamika interaksi antar umat beragama, baik interaksi sosial maupun antar kelompok keagamaan. Kerukunan tersebut tercermin dalam pergaulan hidup keseharian umat beragama yang berdampingan secara damai, toleran, saling menghargai kebebasan keyakinan dan beribadah sesuai dengan ajaran agama yang dianut, serta adanya kesediaan dan kemauan melakukan kerjasama sosial dalam membangun masyarakat dan bangsa.

Etika pembangunan kehidupan antar ummat beragama ditinjau dari ajaran Islam dan dalam kaitan ini hal-hal yang harus selalu diingat (Gustave, E.VG. (Ed), 1975) yaitu :

Pertama, sebagai agama tauhid, Islam mengajarkan adanya kesatuan penciptaan (Unity of creation) (QS Al Hasyr : 24) (QS Al Anbiyaa’ : 50) (QS Al A’laa : 1-3). Dalam ayat-ayat tersebut, banyak yang menunjukkan bahwa seluruh makhluk dan alam semesta (universe) diciptakan oleh Allah dengan kekuatan-Nya yang kreatif, dari “non-existence” atau ‘adam ke “existence” atau wujud. Sifat “rububiyat” Allah menjamin bahwa Tuhan tidak pernah memutus hubungan-Nya dengan universum yang telah diciptakan-Nya sehinggga dalam pandangan Islam seluruh eksistensi merupakan satu kesatuan di bawah satu kekuasaan yang kreatif, yaitu Tuhan.

Kedua, sebagai agama tauhid, Islam mengajarkan kesatuan kemanusiaan (Unity of mankind). Manusia adalah makhluk atau masterpiece di antara segala makhluk Allah (QS At Tiin : 4). Dan walaupun terdiri dari berbagai jenis bangsa dan warna kulit, beraneka ragam dalam bahasa dan agama, manusia mempunyai asal yang sama (QS An Nisaa’ : 1). Asal-usul manusia yang sama ini memperkuat dorongan untuk menghilangkan segala bentuk dan manifestasi diskriminasi antar manusia dan menumbuhkan kesadaran bahwa ummat manusia seluruhnya adalah seperti satu keluarga, sebagaimana dikatakan Nabi Muhammad SAW. Karena mustahil ada dua Tuhan, maka tidak mungkin juga ada dua keluarga kemanusiaan. Perbedaan-perbedaan lingkungan geografis dan antropologis di antara ummat manusia tidak dapat menghilangkan hakikat esensial ummat manusia bahwa mereka merupakan satu unitas kemanusiaan.

Ketiga, kesatuan petunjuk (unity of guidance) juga ditekankan oleh Islam sebagai agama tauhid. Kebutuhan dasar manusia sepanjang sejarah adalah tetap sama, walaupun keperluannya yang tidak bersifat “basic” dapat mengalami variasi waktu dan lingkungan yang berbeda-beda. Petunjuk hidup bagi ummat manusia diberikan oleh Tuhan lewat para Nabi dan dalam pandangan Islam, setiap bangsa semua utusan atau rasul (QS Yunus : 47). Kendati pun tidak semua rasul atau nabi disebutkan dalam Al-Qur’an (QS Al Mu’min : 77).

Islam mengajarkan bahwa setiap bangsa di zaman dulu dalam kurun waktu tertentu pernah diberi rasul oleh Allah dengan membawa pesan yang sama, yakni agar manusia mengabdi pada Allah dan menjauhi perbuatan jahat (QS An Nahl : 36). Secara demikian karena Tuhan hanyalah satu dan hakikat alam semesta hanyalah satu, maka tidak mungkin jika ada lebih dari satu petunjuk bagi manusia.

Sebagai konsekuensi logis dari ketiga hal di atas, maka bagi umat manusia hanya ada satu tujuan atau makna hidup (Unity of purpose of life). Tujuan hidup ini merupakan realisasi supremasi atau keMaha-mutlakan Tuhan dan usaha manusia untuk menjauhi kejahatan sehingga alam semesta dan manusia bergerak bersama-sama sesuai dengan Rencana Tuhan.

Dengan adanya kesatuan fundamental di atas, maka pandangan Islam terhadap agama lain bahwa tidak ada paksaan dalam agama Islam, Islam melarang agresivitas keagamaan, menghormati setiap rumah ibadah, dan kerukunan antar agama. Dengan pengertian itulah, maka saling harga menghargai, hormat-menghormati dapat ditimbulkan di antara pemeluk-pemeluk agama yang satu dengan lainnya. 

Sikap setuju dalam perbedaan mengandung pengertian bahwa “semua agama itu mengandung ajaran yang baik, dan benar hakiki hanya satu, yaitu kebenaran “wahyu Tuhan”, bersifat absolut, tetapi daya tangkap pikiran manusia bersifat relatif. Karena itu, di dalam menerapkan atau menerima kebenaran hakiki itu tergantung kemampuan daya pikir manusia yang bersifat relatif itu, sehingga di dalam memadukan antara kebenaran absolut dan kebenaran relatif, diserahkan menurut keyakinan manusia sendiri.

Penulis : Ninik Qurotul Aini
×
Berita Terbaru Update