Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dakwah: Paradigma Rekonstruksi Islam

| May 18, 2024 WIB | 0 Views Last Updated 2024-05-18T06:30:31Z


Alamanahjurnalis.com - Kediri - Dakwah merupakan konsep yang sangat luas dalam Islam, mencakup berbagai aspek seperti penyampaian ajaran agama, transformasi masyarakat, dan pembentukan identitas budaya.

Gerakan Islam memerlukan treatment yang proporsional dan seimbang antara puritan dan modern yaitu mengenai pemahaman terhadap metodologi perubahan dan juga kerangka berfikir epistemologi. Al Qur'an dan Sunnah sebagai rujukan Islam dengan tetap menghargai pemikiran-pemikiran ulama yang pernah ada dalam hasanah pemikiran Islam dan memiliki kepedulian dan akses juga untuk membangun lapisan-lapisan sosial yang banyak.

Dalam konteks purifikasi, Al Qur'an dan Hadits shahih secara tekstual-normatif merupakan paradigma utama dalam komitmen maupun pelaksanaan ibadah mahdah. Dari paradigma tekstual normatif ini melahirkan doktrin : segala sesuatu yang diyakini dan dilaksanakan bila ada perintah (Al Qur'an dan hadits). Sedangkan dalam konteks rasionalistik, Al Qur'an dan Hadits juga tetap merupakan acuan pokok, namun dalam keyakinan dan pengalaman bidang muamalah duniawiyah ini berlaku doktrin, semuanya boleh dikerjakan selama tidak ada larangan atau bertentang dengan Al Qur'an dan Sunnah, dengan pemikiran bahwa yang abadi (tak dapat digugat) adalah teks Al Qur'an (Qath'i al-Wurud), sedangkan rumusan interpretasinya tetap relatif (Zanny al-Dilalah), juga hadits yang mencakup teks yang Qath'i al-Wurud juga mencakup teks yang Zanny al-Wurud . 

Pembaharuan (tajdid) dengan Sufistikasi Syari'ah memandang perlunya sosialisasi syariah dengan pendekatan sosio-kultural dan sosialisasi pendidikan Islam yang esensinya Tauhid dan Rekonstruksi Syariah, yaitu membedakan syari'ah yang historis dan yang normatif terhadap ayat-ayat mutasabihat atau qath'i. Pembaharuan pemikiran (Tajdid) Islam baik yang bercorak purifikatif (pemurnian bidang ibadah) maupun rasionalistik (bidang muamalah duniawiyah).

Dipandang dari segi pemikiran yang filosofis (Muchlas R, ed, 1999), metode pemahaman terhadap teks-teks Al-Qur'an dan Hadits tidak lagi semata-mata bertumpu pada pola pemahaman yang aksiomatik-positifistik-monistik, sudah saatnya orientasi tersebut diganti dengan metode pemahaman yang bersifat asumtif-probabilistik-pluralistik. Karena, teks Al-Qur'an (termasuk hadits) mengandung unsur sign (satu pemaknaan), signal (dua pemaknaan) maupun symbol (banyak pemaknaan) dengan kata lain, tafsiran Al-Qur'an dan Hadits tersebut dapat bersifat monistik, dualistik, maupun pluralistik. 

Paradigma rekonstruksi Islam merupakan paradigma yang seimbang antara amalyah dengan fiqhyah dan keseimbangan antara orientasi gerakan Islam yang historik empirik dan rutinitas dengan orientasi ke wilayah pemikiran yang metafistik-filosofik dengan tetap menjadikan teks-teks Al-Qur'an dan Hadits yang shahih sebagai acuan utama, yaitu umat Islam dengan visi khalifah-misi ibadah dengan Islam sebagai agama untuk seluruh umat manusia dan kemanusiaannya atau dapat diistilahkan dengan Paradigma Islam Humanis dan Humanisme Islam.

Penulis : Ninik Qurotul Aini
×
Berita Terbaru Update