Hakikat Iman dan Keutamaan Dzikir dalam Kehidupan Seorang Mukmin
Dalam Surat Al-Anfal, Allah SWT menjelaskan ciri-ciri orang beriman yang sejati. Mereka adalah hamba-hamba yang hatinya bergetar ketika nama Allah disebut, bertambah imannya saat ayat-ayat-Nya dibacakan, serta sepenuhnya bertawakal hanya kepada-Nya.
Selain itu, orang-orang beriman juga senantiasa mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang telah diberikan Allah SWT. Mereka inilah yang disebut sebagai mukmin sejati, yang kelak akan mendapatkan derajat tinggi di sisi Allah, ampunan, serta rezeki yang mulia.
Dikutip dari Kitab Durratunnasihin karya H. Salim Bahreisy, dijelaskan bahwa derajat yang dimaksud dalam ayat tersebut bersifat bertingkat. Artinya, setiap mukmin memiliki kedudukan yang berbeda-beda di sisi Allah, tergantung pada amal perbuatan dan kualitas keimanannya selama di dunia.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa dzikir (mengingat Allah) memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bahkan melebihi berbagai bentuk ibadah lainnya. Hal ini karena seluruh ibadah pada hakikatnya merupakan jalan untuk mengingat Allah, sehingga dzikir menjadi tujuan utama dari segala amal ibadah.
Dzikir sendiri terbagi menjadi dua bentuk. Pertama, dzikir yang diucapkan dengan lisan sehingga dapat didengar oleh telinga. Kedua, dzikir yang dilakukan dalam hati dan pikiran, dengan menghadirkan kesadaran penuh kepada Allah tanpa suara. Dzikir dalam hati inilah yang dianggap sebagai tingkatan tertinggi.
Namun, mencapai tingkatan dzikir yang sempurna tidaklah mudah. Hal tersebut hanya dapat diraih dengan membiasakan diri berdzikir secara konsisten, baik dengan lisan maupun hati, serta menghadirkan kekhusyukan dan fokus hanya kepada Allah SWT.
Dengan demikian, seorang mukmin sejati tidak hanya beribadah secara lahiriah, tetapi juga menjaga hati agar senantiasa terhubung dengan Sang Pencipta dalam setiap keadaan.
Editor : Ninik QA


