Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Diplomasi Kopi hingga Strategi Viral jadi Upaya Pelestarian Kuliner Nusantara

| January 08, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-07T22:32:11Z


Alamanahjurnalis.com - Guna memastikan warisan kuliner Nusantara tetap relevan dan berdaya saing global tanpa kehilangan jati dirinya, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie menghadirkan kolaborasi strategis lintas sektor dalam ‘Heritage Talk 2026’ yang diselenggarakan di Bakrie Tower Lantai 42 pada Selasa (6/1/2026).


Dengan menghadirkan tiga narasumber lintas lembaga, yakni, Irman Adi Purwanto Moefthi dari Kementerian Perdagangan (Kemendag), Ervina Waty dari CFO Payakumbuah Group, dan Redinal Rizki Yudaswara dari CEO Payakumbuah Group), serta Dosen Pengampu Mata Kuliah Marketing Public Relations Strategy (MPRS) Haililah Tri Gandhiwati, diskusi ini membedah bagaimana Pass Strategy (strategi menembus hambatan pasar) diterapkan di level negara hingga eksekusi bisnis.


Analis Perdagangan Ahli Madya, Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional, Kemendag Irman Adi Purwanto Moefthi menyoroti peran vital "Diplomasi Kopi". Ia menegaskan, kopi Indonesia kini diposisikan sebagai alat diplomasi budaya, bukan sekadar komoditas dagang. Namun, diperlukan narasi yang kuat agar memuluskan jalan kopi menuju pasar dunia.


"Pemerintah bekerja membuka 'pintu gerbang' regulasi global, namun kita butuh sinergi dengan praktisi untuk mengisi pintu tersebut dengan narasi yang kuat. Tujuannya agar kopi kita memenangkan hati dunia sebagai gaya hidup premium," paparnya dalam Heritage Talk 2026 yang bertemakan "Food Heritage Collaboration: PR dan Marketing untuk Pelestarian Identitas Kuliner Nasional", yang dikutip melalui keterangan resmi.


Dari sisi manajemen internal, Ervina Waty mewakili suara praktisi yang sukses menjaga fondasi bisnis, membuktikan bahwa di tengah gempuran makanan moderen, ‘rasa asli’ adalah aset yang harus dibentengi dengan sistem keuangan yang sehat. Tentunya, hal itu perlu dibarengi dengan modernisasi manajemen yang kekinian dan profesional


"Modernisasi manajemen restoran justru kami gunakan untuk melindungi resep leluhur. Ini bukti bahwa bisnis kuliner bisa tampil kekinian dan profesional tanpa harus mengorbankan keaslian rasa," ungkap Ervina.


Melengkapi perspektif itu, CEO Payakumbuah Group Redinal Rizki Yudaswara menekankan pentingnya relevansi bagi generasi muda. Menurutnya, kuliner tradisional harus bertransformasi menjadi gaya hidup agar tidak ditinggalkan sehingga, para Gen-Z pun bangga mengonsumsi kuliner tradisional.


"Tantangan kita bukan pada rasa, karena masakan Minang sudah teruji dunia. Tantangannya adalah relevansi. Kami menggunakan strategi viral dan digital marketing untuk 'memudakan' warisan ini. Heritage harus dikemas menjadi lifestyle agar Gen-Z merasa bangga mengonsumsinya, sama bangganya seperti mereka minum kopi kekinian," tegas Redinal.


Sementara itu, Dosen Pengampu Mata Kuliah MPRS Haililah Tri Gandhiwati menekankan, keterlibatan praktisi dan pemerintah dalam kelas ini krusial untuk membuka wawasan mahasiswa tentang kompleksitas menjaga warisan budaya.


Menurut perempuan yang akrab disapa Ms. Gandhi ini, menjaga eksistensi kuliner tradisional ini harus lebih dari sekedar berjualan. Dan dalam diskusi ini, terungkap juga bagaimana peran diplomasi dan kekuatan public relation (PR) dalam menembus pasar global, sekaligus mempertahankannya sebagai aset masa depan. 


"Kami mempertemukan mahasiswa dengan Kemendag dan pelaku bisnis restoran karena untuk menjaga 'Benteng Kuliner' butuh lebih dari sekadar jualan (hard-selling)," kata dia.


"Lewat Heritage Talk, mahasiswa belajar seni 'Pass Strategy', bagaimana menggunakan diplomasi dan kekuatan public relations untuk menembus pasar yang sulit. Tanpa sinergi cerdas seperti ini, warisan rasa kita berisiko hanya menjadi sejarah yang tergerus zaman, bukan aset masa depan," tegas Ms. Gandhi.


Sumber: beritanasional.com

×
Berita Terbaru Update