Alamanahjurnalis.com - Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menegaskan, disrupsi digital bukan ancaman, melainkan bagian alami dinamika sejarah yang terus mendorong kemajuan peradaban.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Konvensi Nasional Media Massa Hari Pers Nasional 2026. Ia menilai disrupsi sebagai fenomena historis.
“Sekarang ini berapa istilah yang populer kalau kita bicara pers kita berada pada situasi disrupsi digital," ujar Komaruddin di Serang, Banten, Minggu (8/2/2025).
"Namun sesungguhnya kalau kita berpikir agak serius ya, sejarah itu berkembang memang selalu sebuah dinamika antara tesa, antitesa, dan sintesa,” ujarnya.
Ia menggarisbawahi disrupsi sebagai pola tetap dalam perkembangan manusia dan menjadi konstanta sejarah.
"Disrupsi itu selalu muncul dalam sejarah dan justru karena adanya disrupsi itu maka peradaban menjadi maju. Manusia ditantang kreatif dan inovatif,” katanya.
Komaruddin menilai masyarakat kini berada dalam fase kebingungan wajar. Ia menggambarkan tiga tipe respons masyarakat di era disrupsi.
“Satu masyarakat yang merasa kalah kerjanya mengeluh terus, ada kelompok yang agak wait and see lihat kanan lihat kiri gitu sambil survive. Tapi ada kelompok yang kreatif yang dia justru mengatasi bagaimana menghadapi membuka dunia baru dibalik disrupsi itu," ucapnya.
Ia mengingatkan sejarah Indonesia pun dibentuk melalui fase disrupsi panjang namun berhasil melahirkan tokoh-tokoh bangsa.
Komaruddin berharap konvensi HPN menjadi ruang strategi menghadapi era digital dengan pendekatan progresif.
“Dengan demikian saya berharap Konvensi kali ini juga menjadi momentum lebih melakukan konsolidasi revitalisasi bagi kita semuanya melangkah ke depan berpikir optimis dan kreatif mengatasi situasi seperti ini,” ujarnya.
Sumber: beritanasional.com

