Alamanahjurnalis.com - YOGYAKARTA—Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Akhmad Arif Rifan menegaskan bahwa membangun umat Islam tidak dapat dilakukan hanya dengan semangat dakwah atau slogan keagamaan.
Menurutnya, pembangunan umat harus mengikuti pola yang telah dicontohkan Rasulullah Saw sebagaimana digariskan Al-Qur’an dan dipraktikkan selama 23 tahun masa kenabian.
Hal itu ia sampaikan dalam Pengajian Malam Selasa yang diselenggarakan Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Senin (3/8). Arif menguraikan bagaimana konsep Risalah Islam Berkemajuan dibaca melalui perspektif sirah Nabi.
Ia menjelaskan bahwa salah satu tugas Majelis Tabligh adalah menginternalisasikan berbagai konsep yang telah dirumuskan Muhammadiyah, termasuk Risalah Islam Berkemajuan. Menurutnya, proses internalisasi tidak cukup berhenti pada pembacaan dokumen, tetapi harus dilanjutkan dengan diskusi, pengkajian lintas disiplin, hingga menemukan relevansinya dalam kehidupan.
“Sering kali kita mengetahui sebuah konsep itu ada, tetapi ternyata belum pernah benar-benar membacanya. Karena itu konsep harus dibaca, dipahami, dikaji, kemudian diperkaya,” ujarnya.
Arif menjelaskan bahwa dalam serial kajian yang dilakukan Majelis Tabligh, Risalah Islam Berkemajuan pernah dibaca dari berbagai perspektif, seperti ekonomi, sosiologi, hingga sirah Nabi. Dari kajian tersebut, menurutnya, muncul sejumlah temuan penting mengenai cara Rasulullah membangun masyarakat Islam.
Ia kemudian mengajak jamaah kembali kepada Al-Qur’an sebagai sumber utama dan paling otoritatif untuk memahami metode dakwah Rasulullah. Menurutnya, terdapat empat ayat yang menjadi landasan, yakni QS Al-Baqarah ayat 129, QS Al-Baqarah ayat 151, QS Ali Imran ayat 164, dan QS Al-Jumu’ah ayat 2.
Keempat ayat itu, katanya, memperlihatkan empat tugas pokok kerasulan, yaitu membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa, mengajarkan Al-Kitab, dan mengajarkan hikmah.
Ia menjelaskan bahwa seluruh proses tersebut tidak berlangsung secara instan, melainkan diwujudkan Rasulullah selama 23 tahun perjalanan kenabian. Dalam rentang waktu itulah wahyu turun secara bertahap dan Rasulullah menghadirkan teladan nyata bagaimana ajaran Al-Qur’an diterapkan dalam kehidupan.
“Bukan hanya diajarkan, tetapi dicontohkan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Mengutip kajian Prof. Majid Irsan al-Kailani terhadap QS Al-Anfal ayat 74, Arif menyebut bahwa terbentuknya masyarakat Islam yang ideal atau al-ummah al-muslimah memiliki lima unsur utama.
Kelima unsur itu adalah iman, hijrah, jihad fi sabilillah, iwa’ atau saling memberi perlindungan dan tempat yang aman, serta an-nashr atau saling menolong.
Menurutnya, iman yang dimaksud bukan sekadar pengakuan lisan atau pemahaman terhadap rukun iman, melainkan keimanan yang hadir dalam perilaku sosial. Ia mengutip hadis Nabi tentang seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya sebagai bukti bahwa kualitas iman selalu diukur melalui akhlak.
Ia juga menegaskan bahwa penggunaan bentuk jamak pada kata amanu menunjukkan bahwa membangun umat tidak dapat mengandalkan kesalehan individu semata, tetapi membutuhkan kualitas kolektif seluruh anggota masyarakat.
Arif menjelaskan bahwa makna hijrah pun tidak boleh dipersempit hanya sebagai perpindahan dari Makkah ke Madinah. Hijrah juga berarti meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah, termasuk berpindah demi menuntut ilmu atau meninggalkan lingkungan yang merusak agama.
Ia menambahkan bahwa seluruh unsur tersebut baru benar-benar terwujud setelah hijrah ke Madinah. Selama 13 tahun di Makkah, Rasulullah dan para sahabat lebih banyak menghadapi tekanan dan belum diizinkan melakukan pembelaan diri.
Karena itu, menurutnya, proses membangun umat merupakan perjalanan panjang yang memadukan pendidikan, pembinaan akidah, penguatan karakter, serta pembentukan solidaritas sosial hingga akhirnya lahir masyarakat Madinah yang menjadi fondasi peradaban Islam.
Sumber: Muhammadiyah.or.id


