Alamanahjurnalis.com - Kompetensi sering digambarkan melalui tiga lingkaran yang saling beririsan: knowledge, skills, dan attitude. Tiga lingkaran, tiga unsur, dan satu ruang pertemuan di tengahnya. Namun, bagi seorang asesor kompetensi, ruang pertemuan itulah yang sesungguhnya paling penting. Di sanalah pertanyaan mendasar tentang kompetensi mulai mendapatkan jawabannya: bukan sekadar apa yang diketahui, bukan hanya apa yang dapat dilakukan, dan bukan pula sekadar bagaimana seseorang bersikap, melainkan bagaimana ketiganya menyatu dalam pelaksanaan pekerjaan.
Tidak jarang knowledge, skills, dan attitude dipahami sebagai tiga komponen yang dapat dilihat dan dinilai secara terpisah. Pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang harus dikuasai, keterampilan sebagai sesuatu yang harus ditunjukkan, sedangkan sikap sebagai sesuatu yang harus diperlihatkan dalam perilaku. Cara pandang tersebut memang membantu menyederhanakan konsep, tetapi dapat menjadi problematis ketika diterapkan dalam asesmen kompetensi, karena pekerjaan nyata tidak pernah berlangsung melalui tiga komponen yang bekerja secara terpisah.
Ketika seseorang melaksanakan pekerjaan, ia tidak berhenti untuk mengatakan bahwa sekarang ia sedang menggunakan knowledge, kemudian skills, dan setelah itu attitude. Ketiganya bekerja secara simultan. Seseorang memahami situasi, memilih tindakan, menggunakan keterampilan, mempertimbangkan risiko, menyesuaikan diri terhadap kondisi, dan mempertanggungjawabkan hasilnya dalam satu rangkaian pekerjaan.
Dengan demikian, kompetensi tidak cukup dipahami sebagai sekadar kepemilikan atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Kompetensi lebih tepat dipahami sebagai kemampuan mengintegrasikan ketiganya dan menerapkannya secara tepat dalam konteks pekerjaan. Inilah underpinning yang penting dalam memahami kompetensi: unsur-unsur tersebut bukan sekadar komponen yang berdiri sendiri, melainkan fondasi yang saling menopang dalam menghasilkan kinerja yang sesuai standar.
Berbagai literatur yang membahas konsep kompetensi menunjukkan bahwa knowledge, skills, dan attitudes merupakan unsur yang saling terintegrasi, bukan komponen yang berdiri sendiri. Dalam konteks pengukuran kompetensi, ketiga unsur tersebut perlu dilihat secara terpadu ketika digunakan untuk melaksanakan tugas profesional, karena keberadaannya menjadi nyata melalui pola tindakan (patterns of action). Dengan kata lain, kompetensi tidak berhenti pada apa yang tersimpan dalam diri seseorang, tetapi menjadi bermakna ketika diwujudkan dalam tindakan yang dapat diamati dan dibuktikan.
Pengetahuan merupakan fondasi pertama. Seorang individu perlu mengetahui prinsip, prosedur, konsep, aturan, dan alasan yang berkaitan dengan pekerjaan yang dilaksanakan. Pengetahuan tersebut dapat disebut sebagai underpinning knowledge, yakni pengetahuan yang mendasari dan menopang kemampuan seseorang dalam mengambil tindakan secara tepat. Tanpa pengetahuan yang memadai, tindakan dapat bersifat prosedural dan kehilangan dasar pertimbangannya.
Namun, underpinning knowledge bukan sekadar pengetahuan yang dapat dihafalkan atau dijelaskan secara verbal. Nilainya terletak pada kemampuannya untuk mendukung pengambilan keputusan dan tindakan dalam konteks pekerjaan. Seorang peserta mungkin mampu menjelaskan prosedur pelayanan dengan sangat baik. Ia dapat menyebutkan tahapan pekerjaan, menjelaskan fungsi alat, atau menjawab pertanyaan asesor dengan tepat. Tetapi ketika berada dalam situasi kerja yang sebenarnya, pengetahuan tersebut harus diterjemahkan menjadi tindakan yang sesuai.
Di sinilah knowledge mulai beririsan dengan skills. Keterampilan menunjukkan kemampuan untuk mengubah apa yang diketahui menjadi tindakan. Akan tetapi, keterampilan yang memadai bukan sekadar kemampuan mengulangi langkah-langkah yang telah dipelajari. Dunia kerja tidak selalu memberikan situasi yang identik dengan contoh yang pernah dilatih. Kondisi dapat berubah, masalah dapat muncul, risiko dapat berkembang, dan keputusan harus dibuat.
Karena itu, seorang asesor tidak cukup hanya melihat apa yang dilakukan peserta. Asesor perlu memahami mengapa peserta melakukan tindakan tersebut. Di sinilah pertanyaan "the why behind the action" menjadi penting. Ketika peserta melakukan suatu tindakan dengan benar, asesor dapat menggali: Mengapa Anda melakukan langkah tersebut? Apa yang menjadi pertimbangan Anda? Apa yang akan terjadi apabila langkah itu tidak dilakukan? Mengapa Anda memilih metode tersebut dibandingkan alternatif lainnya?
Pertanyaan semacam ini bukan sekadar menguji teori. Pertanyaan tersebut membantu asesor melihat hubungan antara underpinning knowledge dan tindakan. Ia membuka kemungkinan untuk mengetahui apakah peserta benar-benar memahami apa yang sedang dilakukannya atau sekadar mengikuti prosedur yang telah dihafalkan.
Seseorang mungkin mampu melakukan prosedur dengan benar ketika situasinya sama persis dengan apa yang pernah dipelajari. Tetapi ketika konteks berubah, ia mungkin kehilangan arah. Individu yang memahami why behind the action memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menyesuaikan tindakannya karena ia memahami prinsip yang mendasari tindakan tersebut. Dengan demikian, kompetensi bukan sekadar doing, tetapi doing with understanding.
Namun, pengetahuan dan keterampilan belum memberikan gambaran kompetensi secara utuh. Masih terdapat attitude, unsur yang sering kali paling mudah disalahpahami dalam asesmen. Attitude tidak seharusnya dimaknai sekadar sebagai "sikap baik". Asesor bukan sedang menilai apakah peserta ramah, sopan, percaya diri, atau menyenangkan. Penilaian terhadap attitude harus dikaitkan dengan perilaku yang relevan terhadap tuntutan pekerjaan dan standar kompetensi.
Seorang peserta mungkin memahami pentingnya keselamatan kerja dan memiliki keterampilan menggunakan peralatan. Namun, kompetensi menjadi lebih bermakna ketika ia secara konsisten menggunakan peralatan tersebut dengan ketelitian dan kecermatan, memperhatikan keselamatan, mengenali risiko, serta mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan. Di sini, attitude memberikan arah terhadap penggunaan knowledge dan skills.
Pengetahuan memberi tahu seseorang apa yang benar, keterampilan memungkinkan seseorang melakukannya, sedangkan sikap memengaruhi kesediaan dan konsistensi seseorang untuk menggunakan kemampuan tersebut secara bertanggung jawab. Ketiganya tidak berdiri sendiri. Underpinning knowledge menopang tindakan, keterampilan mewujudkan pengetahuan dalam pekerjaan, sedangkan sikap memastikan tindakan tersebut dilakukan dengan tanggung jawab dan konsistensi.
Di sinilah ketiga lingkaran mulai benar-benar bertemu. Bagi asesor, titik temu tersebut dapat terlihat dalam unjuk kerja. Peserta memahami prinsip pekerjaan, mampu melakukan tugas, mampu menjelaskan pertimbangan di balik tindakannya, mampu menyesuaikan tindakan dengan situasi, dan menunjukkan perilaku yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Ketika seluruh unsur tersebut hadir secara terpadu, asesor mulai memperoleh gambaran tentang kompetensi yang sesungguhnya.
Perspektif ini juga menjelaskan mengapa asesmen kompetensi tidak seharusnya bergantung pada satu metode saja.
Pengetahuan mungkin dapat digali melalui pertanyaan, tetapi keterampilan lebih kuat terlihat melalui observasi. Sementara itu, perilaku kerja dapat terlihat ketika peserta melaksanakan tugas dalam konteks yang relevan. Karena kompetensi merupakan suatu kesatuan yang kompleks, berbagai sumber bukti dapat diperlukan untuk membangun keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penggunaan berbagai metode bukan berarti asesor harus mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya. Yang lebih penting adalah apakah bukti tersebut valid, autentik, terkini, dan memadai untuk mendukung rekomendasi hasil asesmen. Asesor bukan pengumpul dokumen. Asesor adalah profesional yang menilai kualitas bukti dan merekomendasikan hasil asesmen berdasarkan bukti yang memadai.
Di sinilah kualitas seorang asesor benar-benar diuji. Asesor harus mampu membedakan antara kesan dan bukti. Peserta yang percaya diri belum tentu kompeten. Peserta yang lancar berbicara belum tentu memahami pekerjaan. Peserta yang terlihat sangat terampil juga belum tentu mampu menghadapi variasi situasi kerja. Sebaliknya, peserta yang tidak terlalu ekspresif belum tentu tidak kompeten.
Dengan demikian, asesor tidak boleh menilai berdasarkan siapa peserta itu, melainkan berdasarkan apa yang dapat dibuktikan terhadap standar kompetensi. Pertanyaan "Why did you do it that way?" menjadi sangat kuat dalam konteks ini. Pertanyaan tersebut mendorong asesor untuk melihat lebih dalam daripada tindakan yang tampak di permukaan. Dari sana, asesor dapat menemukan apakah tindakan tersebut didukung oleh pengetahuan, pertimbangan profesional, dan pemahaman terhadap konteks.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, asesor tidak hanya melihat the action, tetapi berusaha menemukan the competence behind the action. Di sinilah konsep underpinning knowledge memperoleh makna yang lebih dalam. Pengetahuan yang mendasari kompetensi bukan sekadar sesuatu yang harus "ada" di kepala peserta, tetapi sesuatu yang dapat menjelaskan kualitas keputusan dan tindakan yang ditunjukkannya.
Dua kata yang sangat penting dalam memahami kompetensi adalah integrated dan context. Kompetensi bukan hanya apa yang dimiliki seseorang, tetapi bagaimana apa yang dimilikinya digunakan dalam konteks tertentu. Seseorang mungkin kompeten dalam satu situasi, tetapi belum tentu dapat menggeneralisasikan kompetensinya ke semua situasi tanpa bukti yang memadai. Karena itu, asesor perlu melihat bukan hanya can do, tetapi can do appropriately in context.
Pada akhirnya, tiga lingkaran knowledge, skills, dan attitude seharusnya tidak dipandang sebagai tiga wilayah yang harus dinilai secara terpisah. Diagram tersebut justru mengajarkan sesuatu yang lebih mendalam: kompetensi berada pada titik irisannya. Dan tugas seorang asesor adalah menemukan titik itu melalui bukti.
Sumber: Kompasiana.com


