Alamanahjurnalis.com - Peran Public Relations (PR) di era digital dinilai semakin krusial dalam membangun kepercayaan publik, baik di sektor pemerintahan maupun di dunia usaha.
Di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya risiko disinformasi, komunikasi publik dituntut tidak lagi bersifat satu arah, melainkan dialogis dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital Fifi Aleyda Yahya menegaskan, kemajuan teknologi tidak serta-merta mampu menciptakan kepercayaan publik.
“Teknologi bisa memproses data dengan cepat, AI bisa memprediksi perilaku, tetapi ada satu hal yang tidak bisa diciptakan oleh teknologi, yaitu kepercayaan,” kata Fifi dalam acara Indonesia Public Relations Awards (IPRA) 2026 di Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (28/1/2026).
Menurut Fifi, kepercayaan lahir dari konsistensi, kejujuran, serta keberpihakan nyata kepada masyarakat.
Ia menekankan, kerja-kerja humas kerap berlangsung di balik layar, tetapi memiliki peran strategis dalam menjaga reputasi dan menenangkan ruang publik yang semakin bising.
Dalam konteks pemerintahan, Fifi menilai komunikasi publik tidak cukup hanya menyampaikan informasi, melainkan harus hadir untuk mendengar dan berdialog dengan masyarakat.
“Komunikasi publik adalah jembatan kepercayaan antara negara dan masyarakat,” ujarnya.
Senada, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Public Relation Indonesia (APPRI) Sari Soegondo menyebut kepercayaan publik sebagai aset bisnis paling berharga di era ekonomi digital.
“Kita hidup di zaman ketika informasi tidak lagi bergerak, ia melaju. Dalam hitungan detik sebuah pesan bisa menjangkau jutaan orang. Dalam hitungan jam, reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa menguap begitu saja,” kata Sari.
Menurutnya, fungsi PR kini tidak lagi sekadar penyampai pesan, melainkan penjaga integritas dan reputasi organisasi.
“Kepercayaan adalah aset yang paling berharga. Nama baik dibangun dengan konsistensi dan komitmen, namun bisa tercoreng hanya dalam sekejap dan tidak mudah untuk dipulihkan kembali,” ujarnya.
Sementara itu, CEO & Chief Editor Warta Ekonomi Muhamad Ihsan menilai peran PR di era digital telah bergeser menjadi elemen strategis dalam membangun reputasi dan kredibilitas organisasi.
“Setiap pesan yang disampaikan, baik melalui media arus utama, platform digital, maupun media sosial yang berpotensi membentuk persepsi publik dan berdampak langsung pada citra serta kinerja organisasi di mata publik dan pasar,” katanya.
Ihsan mengungkapkan, berbagai studi global menunjukkan reputasi dan kepercayaan publik memiliki korelasi kuat dengan kinerja bisnis. Di sisi lain, adopsi teknologi juga semakin meluas di industri kehumasan.
“Dalam konteks meningkatnya risiko disinformasi dan krisis reputasi di era digital, Laporan The State of AI in PR 2026 menunjukkan bahwa 76 persen profesional PR sudah menggunakan generative AI dalam pekerjaan mereka, yang mencerminkan adopsi AI di industri secara luas,” tambahnya.
Sumber: beritanasional.com

