Alamanahjurnalis.com - Jakarta - Pemerintah tengah menyiapkan sumber energi alternatif yang merupakan arahan dari Presiden RI Prabowo Subianto, sebagai upaya mencapai kemandirian energi.
Dirangkum dari sawitindonesia.com, pemerintah terus mempersiapkan berbagai opsi pengganti peran Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang sampai sekarang masih mengandalkan impor.
Apa saja opsi pengganti BBM-LPG?
Bioetanol
Dari ranah Kementerian Pertanian, Indonesia mengarah pada pemanfaatan tumbuhan (biofuel) sebagai bahan campuran BBM. Bioetanol misalnya, saat ini fokus utama pemerintah mengembangkan campuran bioetanol hingga 20% (E20) ke BBM jenis bensin.
Biodiesel
Pemerintah juga melanjutkan program biodiesel sawit, termasuk target B50 untuk menghentikan impor solar.
Elektrifikasi
Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyebut peralihan ke kendaraan listrik dan kompor listrik bisa menjadi langkah strategis untuk menekan konsumsi energi berbasis impor, baik BBM maupun LPG.
PLTD ke PLTS
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menggantikan sumber listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di wilayah Tertinggal, Terluar, Terdepan (3T).
Jargas
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan program jaringan gas untuk rumah tangga (jargas) akan semakin diperkuat. Terutama untuk menekan angka subsidi terhadap energi impor LPG.
DME
Pemerintah sedang menyiapkan proyek pengganti LPG melalui hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat menyampaikan, bahwa proyek DME cukup penting mengingat Indonesia masih sangat bergantung pada impor LPG. Setidaknya, konsumsi LPG RI mencapai 10 juta ton per tahun sementara kapasitas produksi domestik hanya sekitar 1,6 juta ton.
(Redaksi)


