Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Generasi Tanpa Kecemasan

| August 20, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-20T03:38:00Z



Alamanahjurnalus.com - ADA semacam kebiasaan yang selalu saya jaga setiap kali membaca angka: jangan buru-buru percaya, tapi jangan juga buru-buru curiga. 


Angka, sebagaimana manusia, punya cara bicaranya sendiri, dan tugas kita hanyalah cukup sabar mendengarnya sampai tuntas sebelum menyimpulkan apa pun.


Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia periode Juli 2026 adalah salah satu angka yang, saya kira, layak untuk didengar dengan sabar semacam itu — karena ia menyimpan kejutan yang, bagi saya, jauh lebih menarik daripada sekadar statistik ekonomi bulanan. 


Secara nasional, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 tercatat 116,8 — sedikit melunak dari 117,8 pada bulan sebelumnya, namun tetap bertengger nyaman di atas ambang optimisme 100.


Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK), yang mengukur harapan enam bulan ke depan, ada di angka 125,7. 


Semua itu angka yang cukup sehat untuk ukuran negara sedang riuh oleh perbincangan politik dan ekonomi di berbagai lini masa.


Hal yang cukup terkesiap bukan pada angka nasionalnya, melainkan angka yang muncul ketika data itu dipilah berdasarkan usia. 


Di sanalah kejutannya. Kelompok usia 20–30 tahun — yang secara sosiologis kita kenal sebagai inti dari Generasi Z — justru mencatat IKK tertinggi di antara seluruh kelompok umur, yakni 122,9. Bukan hanya di atas rata-rata nasional, angka ini jauh melampaunya. 


Berbagai melaporkan, generasi yang paling sering dituduh cemas, paling sering dinarasikan sebagai generasi rapuh dan gelisah, justru tampil sebagai kelompok paling percaya diri terhadap masa depan ekonominya sendiri.


Ironi ini yang begitu menggelitik. Sebab jika kita menengok ke ruang media sosial — ruang yang selama ini dianggap sebagai cermin paling jujur suasana batin generasi muda — yang menderu justru sebaliknya: sinisme, keluhan, tagar-tagar kecemasan terhadap ongkos hidup, lapangan kerja, dan masa depan politik-ekonomi bangsa.


Ruang Bising yang (sepertinya) Semu


Izinkan saya menawarkan tafsir pertama: media sosial adalah ruang ekspresi yang sangat selektif, dan kegaduhan di dalamnya tidak pernah proporsional dengan suasana batin yang sesungguhnya dialami penghuninya. 


Yang paling nyaring bersuara di lini masa umumnya adalah yang sedang paling gelisah — sebuah hukum lama dalam kajian komunikasi digital yang menyebutnya sebagai outrage bias, atau kemarahan dan kecemasan jauh lebih mudah viral dibanding rasa optimis yang tenang. 


Optimisme, sialnya, tidak pernah semenarik amarah untuk dibagikan ulang.


Gen-Z, ternyata tidak sepenuhnya identik dengan kebisingan linimasanya. 


Mereka hadir di sana,  tentu, tapi kehadiran itu tidak selalu berarti representasi utuh dari cara mereka memaknai hidup.


Sebagian dari mereka sesungguhnya tengah sibuk di ruang yangu lain — ruang yang lebih senyap namun lebih produktif: ruang mencari peluang. 


Mereka scroll bukan semata untuk 

mengeluh, tetapi juga untuk memindai


Algoritma yang sama yang menyodorkan konten kecemasan pada sebagian orang, ternyata menyodorkan peluang usaha, lowongan kerja lepas, dan inspirasi penghasilan tambahan pada sebagian lainnya. 


Generasi ini, dengan kata lain, telah belajar untuk memilah isyarat dari derau — sebuah kompetensi literasi digital yang justru sering luput dari perhatian kita yang gemar menuduh mereka rapuh. 


Generasi di Ruangnya Sendiri 


Tafsir kedua bergerak lebih jauh ke wilayah struktural. Optimisme yang tercermin dalam angka BI ini, saya kira, bukan optimisme yang lahir dari kekosongan, melainkan optimisme yang lahir dari rasa kepemilikan atas ruang. 


Dalam bahasa sosiologi ekonomi, ini adalah soal agency — kesanggupan seseorang untuk merasa menjadi subjek, bukan sekadar objek, dari perubahan struktural yang sedang terjadi di sekitarnya.


Angka-angka pendukung dalam survei ini memperkuat dugaan tersebut. Tentu ini bukan optimisme buta. 


Ini optimisme yang bertumpu pada keyakinan bahwa ruang ekonomi digital, ruang kreatif, ruang wirausaha mikro, dan ruang kerja lepas — ruang-ruang yang tumbuh cepat dalam satu dekade terakhir — adalah ruang milik mereka secara alamiah. 


Mereka lahir bersamaan dengan lahirnya ruang itu, dibesarkan oleh logikanya, dan karenanya merasa memiliki hak paling absah untuk mengisi setiap celah kosong di dalamnya. 


Bagi generasi sebelumnya, ekonomi digital adalah sesuatu yang harus dipelajari, diadaptasi, kadang bahkan ditakuti.


Bagi Gen-Z, ia adalah rumah. Dan tidak seorang pun cemas tinggal di rumahnya sendiri. 


Tafsir ketiga, dan barangkali yang paling mendalam, adalah soal cara generasi ini memaknai relasi antara diri dan zaman. 


Ada pergeseran epistemologis yang menarik di sini: jika generasi-generasi sebelumnya cenderung memandang dinamika sosial-ekonomi-politik sebagai sumber ancaman yang harus diwaspadai, Gen-Z tampaknya justru membacanya sebagai medan yang harus dimasuki dan ditaklukkan. 


Ini bukan soal mereka tidak melihat persoalan riil di depan mata — kenaikan biaya hidup, ketatnya persaingan kerja formal, atau turbulensi politik yang kerap mereka kritik keras di ruang publik digital.


Persoalan itu mereka lihat, mereka kritisi, bahkan mereka perdebatkan dengan tajam. Tetapi kritik dan kecemasan, kita perlu ingat, adalah dua hal yang berbeda.  


Gen-Z boleh jadi generasi paling kritis yang pernah kita miliki, namun data ini menunjukkan mereka bukan generasi yang lumpuh oleh kritik itu sendiri.


Mereka mengkritik zaman sembari tetap bekerja di dalamnya — sebuah kapasitas psikososial yang, jika kita jujur, sesungguhnya jauh lebih matang dibanding stereotip yang kerap dilekatkan pada mereka. 


Idealisme mereka, dengan demikian, tidak berhenti pada level wacana.


Ia bergerak menjadi tindakan: mengisi ruang-ruang kosong yang tersedia hari ini, dan bersiap mengisi ruang-ruang baru yang akan lahir esok. 


Bagi mereka, setiap disrupsi adalah undangan, setiap ketidakpastian adalah lowongan yang belum diberi nama. 


Generasi tanpa Kecemasan 


Maka dalam konteks ini, mungkin selama ini kitalah — generasi yang lebih tua, yang lebih dulu mengenal kecemasan sebagai bahasa sehari-hari — yang keliru memproyeksikan ketakutan kita sendiri kepada mereka. 


Kita mengira mereka cemas karena kita sendiri cemas melihat dunia yang berubah secepat ini.


Padahal, data dari Bank Indonesia justru menunjukkan sebaliknya: di tengah dunia yang oleh banyak pihak dianggap penuh gejolak, Gen-Z memilih untuk berdiri bukan sebagai korban zaman, melainkan sebagai pemilik sahnya. 


Barangkali inilah saatnya kita menyebut mereka bukan lagi generasi micin, generasi rebahan, atau generasi rapuh — melainkan Generasi tanpa Kecemasan: generasi yang telah menemukan cara untuk berdamai dengan ketidakpastian, dan mengubahnya menjadi bahan bakar bagi optimismenya sendiri. 


Tugas kita, generasi yang lebih dulu hadir, bukan lagi mengkhawatirkan mereka — melainkan memastikan ruang-ruang yang mereka yakini penuh peluang itu benar-benar terbuka, adil, dan tidak berakhir menjadi janji kosong yang mengkhianati kepercayaan besar yang telah mereka titipkan pada masa depan. 


Sumber: Tatan (kompas.com)

×
Berita Terbaru Update